info@uinkhas.ac.id (0331) 487550

Dari Meja Desain ke Aula Rasjidi: Dahlan Nur Busri dan Logo HAB ke-80 Kemenag

Home >Berita >Dari Meja Desain ke Aula Rasjidi: Dahlan Nur Busri dan Logo HAB ke-80 Kemenag
Diposting : Selasa, 06 Jan 2026, 08:42:04 | Dilihat : 829 kali
Dari Meja Desain ke Aula Rasjidi: Dahlan Nur Busri dan Logo HAB ke-80 Kemenag


Humas - Di Aula H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Senin siang, 5 Januari 2026, tepuk tangan mengalir bersahut-sahutan. Di antara jajaran pejabat dan undangan Tasyakuran Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI, satu nama disebut dengan penuh kebanggaan: Dahlan Nur Busri, S.Sos. Ia melangkah ke depan, mendampingi Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Dr. H. Nawawi, M.Fil.I, untuk menerima Penghargaan Desainer Logo HAB ke-80 langsung dari Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

Bagi Dahlan, momen itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengakuan atas kerja sunyi yang kerap berlangsung di balik layar,yakni di ruang desain, di depan layar komputer, dan dalam proses panjang merumuskan makna visual yang mampu berbicara kepada jutaan umat. Sebagai tim Sekretariat dan Protokoler UIN KHAS Jember, Dahlan menjadi sosok di balik logo resmi HAB ke-80 Kemenag Tahun 2026, yang kini menjadi wajah nasional peringatan satu dekade delapan perjalanan Kementerian Agama.

Logo tersebut tampil sederhana namun sarat filosofi. Angka “80” dirancang simetris dan melingkar, menandakan kesinambungan, kesatuan, dan harmoni yang sejalan dengan tema besar “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju.” Lingkaran kuning di dalam angka nol menyerupai matahari, simbol energi positif dan harapan masa depan. Tiga daun yang tumbuh dari komposisi angka merepresentasikan relasi nilai agama, manusia, dan alam, sekaligus menegaskan komitmen ekoteologi Kementerian Agama.

Dominasi warna hijau (identitas Kemenag) menyiratkan kedamaian, keseimbangan, dan moderasi beragama. Sementara kuning cerah memberi aksen optimisme dan semangat perubahan. Tipografi yang tegas dan modern menegaskan profesionalisme serta keberlanjutan kinerja pelayanan umat. Bagi Dahlan, desain bukan sekadar estetika, melainkan pesan moral: kerukunan dan kolaborasi lintas umat adalah fondasi kemajuan bangsa.

Latar belakang Dahlan menuturkan kisah ketekunan. Lahir di Pamekasan, 24 April 1995, dan tumbuh di lingkungan pesantren Madura, ia menempuh pendidikan dari MI Bustanul Ulum, MTs dan MA Darul Ulum Banyuanyar, hingga meraih gelar sarjana di IAIN Jember. Sejak muda, Dahlan akrab dengan dunia literasi, jurnalistik, dan organisasi, mulai dari redaksi majalah pesantren, radio komunitas, hingga kepemimpinan di PMII dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran.

Pengalaman sebagai wartawan harian dan jurnalis daerah membentuk kepekaan Dahlan terhadap isu publik. Kemampuan menulis, desain grafis, videografi, hingga fotografi menjadi satu kesatuan keterampilan yang ia rawat. Motto hidupnya sederhana namun konsisten: “Bermanfaat untuk orang lain.” Prinsip itu pula yang ia bawa dalam setiap karya visual (termasuk logo HAB ke-80) agar desain tak berhenti pada simbol, melainkan memberi nilai guna.

Penyerahan penghargaan berlangsung dalam rangkaian Tasyakuran HAB ke-80 yang dimulai dengan laporan panitia oleh Sekretaris Jenderal, arahan Menteri Agama, pemotongan tumpeng, hingga ramah tamah. Di tengah agenda resmi itu, kisah Dahlan menjadi penanda bahwa institusi besar bertumbuh juga berkat kontribusi individu-individu muda yang bekerja dengan dedikasi.

Dari Dusun Junggrang II, Desa Patempuran, Kalisat, Jember, hingga panggung nasional di Jakarta, perjalanan Dahlan Nur Busri menunjukkan bahwa ide yang dirawat dengan ketekunan dapat menjelma simbol nasional. Logo HAB ke-80 kini bukan hanya milik Kementerian Agama, tetapi juga cermin semangat generasi yang percaya bahwa desain dapat menjadi bahasa persatuan dengan menyapa umat, merawat kerukunan, dan mengantar Indonesia melangkah damai dan maju. 

Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah

;