Joyful Ramadan: Peringatan Nuzulul Qur’an di UIN KHAS Jember, Meneguhkan Tradisi Iqra’ dan Peradaban Ilmu
Humas - Suasana Ramadan di lingkungan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember semakin khidmat melalui kegiatan Joyful Ramadan: Peringatan Nuzulul Qur’an yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026. Kegiatan yang menghadirkan pengasuh Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Jember, KH. Mushodiq Fikri Faruq, ini berlangsung di Masjid Sunan Ampel UIN KHAS Jember mulai pukul 16.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa.
Acara tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan kampus yang mempertemukan sivitas akademika dalam suasana religius sekaligus intelektual. Setelah rangkaian tausiyah dan refleksi keagamaan, kegiatan dilanjutkan dengan salat berjamaah dan diakhiri dengan buka puasa bersama.
Rektor UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak sekadar mengenang turunnya kitab suci, tetapi juga mengingatkan umat Islam pada lahirnya sebuah peradaban besar yang berakar pada tradisi membaca dan literasi.
Menurutnya, kemuliaan Ramadan tidak terlepas dari peristiwa turunnya Al-Qur’an yang diawali dengan wahyu pertama, iqra’, perintah membaca yang menjadi fondasi lahirnya peradaban ilmu dalam Islam.
“Peringatan turunnya Al-Qur’an bukan hanya mengenang sebuah kitab suci, tetapi juga menandai kelahiran peradaban iqra’, sebuah peradaban literasi yang mendorong umat Islam untuk membaca, memahami, dan menguasai berbagai bidang kehidupan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi iqra’ tidak hanya dimaknai sebagai membaca teks wahyu, tetapi juga membaca realitas kehidupan. Dalam pandangannya, umat Islam didorong untuk membaca dua jenis ayat: ayat qauliyah yang tertulis dalam Al-Qur’an, serta ayat kauniyah yang tampak dalam fenomena alam dan kehidupan manusia.
“Ketika tradisi membaca ini terus dikembangkan, maka umat Islam akan mencapai puncak kejayaan peradaban. Tidak ada pencapaian besar tanpa tradisi literasi yang kuat,” kata Prof. Hepni.
Ia juga mengingatkan pentingnya dua pusaka yang diwariskan Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam, yakni Al-Qur’an dan sunnah. Keduanya menjadi pedoman yang akan menjaga manusia dari kesesatan jika dijadikan rujukan dalam kehidupan.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, KH. Mushodiq Fikri Faruq mengajak jamaah untuk memahami kemuliaan Ramadan secara lebih mendalam. Ia menjelaskan bahwa kemuliaan bulan suci ini bukan semata-mata karena ibadah puasa yang dijalankan umat Islam, tetapi karena di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai sumber keberkahan.
“Ramadan menjadi mulia karena Allah sendiri yang memuliakannya dengan turunnya Al-Qur’an. Karena itu, siapa pun yang terhubung dengan Al-Qur’an akan mendapatkan keberkahan,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa ilmu dalam Islam tidak pernah berdiri sendiri. Al-Qur’an, menurutnya, selalu menggandengkan ilmu dengan iman dan akhlak. Tanpa iman dan akhlak, ilmu dapat kehilangan arah dan bahkan berpotensi menimbulkan kerusakan.
“Ilmu harus berjalan bersama iman dan akhlak. Itulah yang diajarkan Al-Qur’an. Ketika ilmu terlepas dari nilai-nilai tersebut, ia bisa kehilangan keberkahan,” jelasnya.
Gus Fikri juga menyinggung tradisi keilmuan pesantren yang menekankan adab terhadap guru sebagai bagian penting dari proses mencari ilmu. Dalam tradisi santri, penghormatan kepada guru tidak sekadar simbol, tetapi merupakan cara menjaga keberkahan ilmu yang dipelajari.
Melalui kegiatan Joyful Ramadan ini, kampus berharap nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai teks keagamaan, tetapi juga menjadi inspirasi dalam membangun budaya akademik yang berakar pada iman, ilmu, dan akhlak.
Menjelang waktu berbuka, jamaah yang terdiri dari pimpinan kampus, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa menikmati kebersamaan dalam buka puasa bersama.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah



